Sistem Waralaba, Bukan lagi Skema Investasi, Tapi Digunakan Sebagai Strategi marketing

Suatu sore, saya merasa ingin sekali untuk mencoba makan mie ayam yang beberapa hari sebelumnya telah saya lihat lewat sebuah spanduk “Mie Unyu, Mie Sehat Tanpa Pengawet”. Memang selama ini saya sudah jenuh makan mie, yang merupakan makan kesukaan saya sejak kecil, namun saya merasa mie yang selama ini saya makan kurang sehat. Singkat cerita akhirnya saya mencoba makan mie ayam di tempat tersebut. Tempatnya sederhana, memakai gerobak biasa, yang berbeda adalah rasa mie nya yang lebih enak.

Di depan gerobak, tepatnya di spanduk yang terpasang sederhana tertulis “cabang kesekian ratus”, saya tidak hapal tepatnya berapa ratus. Setelah saya coba “interogasi” bapak si penjualnya, dia menjelaskan bahwa mie jualannya adalah salah satu sistem franchise (waralaba). Di mana si pembeli waralaba atau franchisee (terwaralaba) mengeluarkan uang sebanyak 7 juta rupiah kemudian akan mendapatkan gerobak mie beserta mienya.

Saya merasa terkejut juta bahwa bisnis mie yang biasanya dikelola secara tradisional, ketika diwaralabakan ternyata dapat membentuk ratusan jaringan gerobak mie di mana-mana. mungkin setiap kita sudah pasti kenal dengan yang namanya McD, KFC, Alfa Mart, Indomaret, dan Kebab Turki Baba Rafie. Brand-brand tersebut memiliki jaringan di berbagai daerah bahkan luar negeri. Kesamaan dari bisnis tersebut adalah menerapkan sistem waralaba.

Sistem waralaba, dari sudut keuangan merupakan sebuah sistem investasi antara pemilik modal dengan pemilik bisnis di mana pemilik modal ikut serta mengelola bisnisnya. Begitu kira-kira gambaran sederhana sistem waralaba dari sudut pandang keuangan. Namun terlepas dari itu, sistem waralaba telah menjadi strategi marketing dimana dengan sistem ini sebuah bisnis dapat dengan cepat mengembangkan sistem jaringan distribusinya. Bagaimana tidak, Kebab turki Baba Rafi telah berhasil mengembangkan ribuan outletnya sampai ke luar negeri dalam beberapa tahun saja.

Bagi para manager marketing atau pemilik bisnis, sistem waralaba ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu strategi untuk mengembangkan kantor cabang atau outletnya secara lebih cepat. Sistem waralaba ini memiliki keunggulan untuk mengembangkan jaringan bisnis dikarenakan kita tidak memerlukan investasi modal awal sebanyak jika kita membuka jaringan bisnis sendiri. Modal tersebut bisa di-share ke terwaralaba.

Ekspansi bisnis sering terhambat oleh sulitnya mendapatkan lokasi yang strategis. Lokasi yang strategis sudah pasti menjadi rebutan. Lokasi yang strategis sudah pasti harganya mahal. Dengan sistem waralaba, terwaralaba akan dengan suka rela “memberikan” lahan tersebut untuk lokasi bisnis sistem waralaba yang dibelinya.

Terkadang calon pembeli menilai reputasi sebuah brand dari seberapa banyak cabang yang berhasil dibangun. semakin banyak cabang maka akan dinilai lebih positif oleh calon pembeli. mereka beranggapan bahwa ketika banyak orang yang sudah membeli produk tersebut maka produk tersebut sudah teruji. Oleh karena itu sistem waralaba yang dengan cepat menambah jumlah jaringan bisnis kita maka tentunya akan meningkatkan brand equity kita.

Saya melihat dengan tiga keunggulan di atas saja, sistem waralaba ini sudah layak menjadi salah satu strategi marketing melalui penambahan jaringan cabang. Anda dapat mengkaji keunggulan-keunggulan lainnya walaupun ada beberapa kelemahan tentunya.

Semoga Bermanfaat!

Ayat Hidayat Huang

Direktur PT Globalstat Solusi Utama
Konsultan Market dan Bisnis Riset
untuk Training, Konsultansi, dan Riset
call: +6281321898008

Latest posts by Ayat Hidayat Huang (see all)

About Ayat Hidayat Huang

Direktur PT Globalstat Solusi Utama Konsultan Market dan Bisnis Riset untuk Training, Konsultansi, dan Riset call: +6281321898008